"The Power Of
Love ; Sim Sala Bim"
‘Jagii!” jeritku,
“tiketnya datang.”. Amplop yang aku pegang berisi jadwal perjalanan bulan madu
ke-2 kami dengan kapal ke pulau Nami.
“Bagus,” gumamnya
lalu tenggelam dengan Koran Sabtu pagi. Aku berjalan ke sofa, menjatuhkan diri
di sana, dan mengeluarkan isi amplop ke pangkuan. Donghae tetap focus pada
bisnis Koran itu. Aku memandang sekilas pada brosur, dan membaca jadwal
perjalanan keras-keras. Tapi sayangnya dia tidak mengacuhkanku dan malah meneguk kopi. Aku berpura-pura
tidak memperhatikan wajahnya yang merengut. Responnya yang mengecilkan hati
adalah salah satu alasan mengapa aku sangat menginginkan liburan ini.
Kami telah menikah
sepuluh tahun. Di saat pernikahan, Donghae ingin mempunyai banyak anak. Untuk itu
kami mencari rumah dengan banyak kamar tidur. Namun kenyataannya, aku tidak
juga hamil. Pada akhirnya kami berkonsultasi dengan dokter dan mengikuti
beberapa tes. Ketika dokter memberitahu kami tidak akan pernah punya anak, aku
melihat Donghae mengernyitkan wajahnya dan aku tahu harapannya hancur.
Kenyataan ini
membebani pernikahan kami, meskipun Donghae mengatakan dia tidak menyalahkanku.
Tapi dia menjadi lebih pendiam saat salah satu teman, ataupun kerabat bahagia
saat menyambut bayi kecil dalam kehidupan mereka. Aku mengusulkan adopsi, tapi
dia tidak mau membahasnya. Sembilan tahun berlalu, dan beberapa bulan terakhir
kami nyaris tidak saling bicara, kecuali untuk bertengkar.
Aku berencana
mengubah semua itu dalam tujuh hari di pulau Nami. Aku ingin memperbaiki
semuanya dan memulai dari awal lagi.
Kapal di jadwalkan
berangkat Jumat depan dan aku membeli pakaian baru untuk menginspirasinya,
berusaha menurunkan beberapa kilogram tubuhku, dan tampil cantik. Aku berusaha
menyiapkan segala sesuatu untuk menjadikan liburan ini sangat khusus bagi kami.
Aku juga percya liburan ini akan memperbaiki hubungan kami. Dengan teliti aku
menghitung hari.
Pada Kamis siang
aku bersenandung sambil mengemas perlengkapan. Kopor Donghae tergeletak di sisi
tempat tidur, dan dalam keadaan kosong. Telepon bordering, Donghae yang
menelepon.
“Hyun Jae ada
sesuatu yang terjadi. Hangeng hyung berhenti kerja hari ini. Kami kekurangan
tenaga. Jadi, aku tidak bisa pergi besok.”
“Tapi jagi, tidak
bisakah orang lain menggantikannya? Ini bulan madu ke-2 kita. Kita juga sudah
merencanakannya berbulan-bulan,” aku menggigit bibir.
“Bos membutuhkanku.
Ini kesempatan besar untuk menunjukkan kemampuanku. Jadi jangan menunggu. Aku
batal,” dia menutup telepon sebelum memberiku kesempatan untuk bicara. Aku
merinding saat setetes air bening mengalir turun dari mataku.
Dengan perasaan
tertekan, aku berusaha menyibukkan diri, berharap kekecewaanku akan menghilang.
Ternyata sama sekali tidak mempan. Aku pergi tidur dengan air mata menggenangi
pipiku.
Lewat tengah malam
Donghae pulang dan berbaring di sisiku. Paginya ketika aku bangun, ia sudah
pergi. Sebuah catatan tergeletak di meja.
Bersenang-senanglah,
Donghae.
Aku memperhatikan
bahwa dia tidak menulis Love Donghae seperti biasanya. Aku menghapus
air mata. Sepertinya aku akan berbulan madu seorang diri. Membayangkannya saja
membuat perutku mulas.
Aku menyiapkan
semua bawaanku dan memasukkan sekotak tisu ke dalam koper. Donghae lebih
memilih pekerjaannya dibanding aku. Aku tak punya kesempatan untuk memperbaiki
pernikahan kami. Namun, aku berusaha untuk berpikir positif, aku meninggalkanku
tiket Donghae di atas meja.
Aku menelepon
kantornya untuk memberinya 1 kesempatan terakhir dan mendengar suara riang
seorang wanita. “Apakah Lee Donghae ada?” tanyaku dengan sengit.
“Dia ada disini,”
jawabnya. Aku mengenali suara centil itu. Shin HyoRi, yang sejak dulu
tergila-gila pada Donghae. Perasaan takut tiba-tiba menusukku.
“Halo. Lee Donghae
disini.”
“Aku hanya ingin mengucapkan
selamat berpisah, kecuali….”
“Bersenang-senanglah.
Banyak wanita yang pergi seorang diri. Kau akan berkenalan dengan banyak teman
baru. Jika pekerjaan di sini sudah selesai, aku akan menyusulmu.”
Ketika dia
mengucapkan selamat berpisah, aku mendengar tawa cekikikan di latar belakang.
Tenggorokanku tercekat. Apa dia selingkuh? Beberapa minggu dia bersikap tak
acuh dan bekerja sampai larut malam.
Hatiku terasa di
remas-remas ketika aku meletakkan cincin pernikahanku di atas tiketnya. Aku
bertekad meninggalkan semua sakit hatiku, paling tidak selama perjalanan.
Aku mengemudi
sendiri ke pelabuhan, berjuang dengan koper-koperku dan bergabung dengan
antrean. Aku melihat banyak pasangan yang mendaftarkan kedatangan mereka.
Tiba-tiba saja aku merasa sangat kesepian. Seandainya Donghae jadi pergi. Aku
menyerahkan tiketku kepada pria di balik meja pendaftaran.
“Nyonya Lee, ada 2
penumpang yang mendaftar di kamar 132. Apakah penumpang lainnya akan tiba
sebelum kapal berangkat?”
“Tidak. Suami saya
harus melakukan pekerjaan darurat. Aku pergi sendiri,” kesepian menghujam
dadaku, pria itu tersenyum padaku dengan wajah penuh empati.
“Ada 150 penumpang
di kapal ini, dan banyak yang bepergian seorang diri. Selamat menikmati pulau
Nami.”
“Kamasahamnida,”
aku naik kekapal, dan berjalan ke kamarku. Kamarnya lebih kecil dari yang aku
bayangkan, dengan 2 jendela kecil. Aku berbaring di tempat tidur. Aku merasa
sangat sedih. Rasanya akan berbeda jika Donghae ada di sini. Apa dia merasa bosan padaku? Dengan menelan ludah,
aku memutuskan untuk berhenti mengasihani diri sendiri. Tujuan perjalanan ini
untuk menenangkan pikiranku, dengan atau tanpa Donghae.
Aku membereskan
koperku dan berganti pakaian untuk makan malam.
Aku duduk di ruang
makan dalam kesendirian. Hatiku kembali pedih saat melihat pengunjung lain
bercengkrama dengan pasangan mereka. Aku sangat merindukannya saat ini.
“Annyeong haseyo,”
aku menoleh dan melihat seorang pria yang menurutku tampan sedang tersenyum
menatapku. “Bolehkah aku bergabung? Semua meja sudah di isi dengan pasangan
yang sepertinya sedang jatuh
cinta. Jadi tidak mungkin aku bergabung dengan mereka.”
Aku menatapnya
dengan tatapan kesal. Jadi menurutnya aku adalah wanita kesepian yang duduk di
antara pasangan-pasangan lain dan mengharapkan seseorang menemaniku agar aku
tidak terlihat bodoh?
“Oh, Mianhae. Saya
tidak bermaksud menyinggung perasaan anda. Maksud saya….” Ucapnya
cepat saat melihat perubahan raut wajahku.
“Ne, saya mengerti
maksud anda. Silahkan duduk,” jawabku ketus memotong kata-katanya sebelum dia
melanjutkan penjelasannya yang dapat membuatku mengusir dia dari sini.
“Kim Jongwoon
imnida. Kau boleh memanggilku Yesung,” kata pria dihadapanku.
“Lee Hyun Jae
imnida,” aku memaksa seulas senyum dan menyambut uluran tangannya.
“Makan malam sendirian? Atau sedang
menunggu sendirian?” tanyanya setelah aku menarik kembali tanganku. Aku
berusaha tidak emosi dan menggeleng pelan. “Tidak, aku memang sendirian.
Bagaimana denganmu?”
Ia menyunggingkan
senyumnya yang menurutku manis. “Aku juga sendirian.”
“Aku minta maaf
untuk sikapku tadi yang kurang bersahabat.”
“Gwenchana,” kata
Yesung. Ia mengangkat sebelah tangannya dan memanggil seorang pelayan.
Seorang pelayan
datang menghampiri meja kami. Yesung menyebutkan pesanannya dan pelayan tiu
berlalu.
Harus aku akui,
Yesung adalah pria yang menyenangkan. Bicara dengannya seperti bicara dengan
teman lama. Kami sama sekali tidak kehabisan bahan obrolan, dan tentunya ia
sangat cerewet. Ia bercerita bahwa ia seorang duda dan pemilik salah satu
studio rekaman terbesar di Seoul. Menurutku, kehidupannya adalah kehidupan
kelas atas. Ketika malam semakin larut, aku baru menyadari bahwa dia
menyukaiku.
“Apa aku bisa menemanimu besok?” Tanya Yesung
saat dia mengantarku ke kamarku.
Aku tersanjung
mendengarnya dan tersenyum. “ Tentu saja,” aku merasa gembira dengan rencana
itu. Donghae telah mengatakan aku akan bertemu dengan teman baru, pasti dia kan
terkejut bila mengetahui teman baruku ternyata sangat menyenangkan.
*Keesokkan hari*
Yesung menepati
janjinya. Sebelum kapal berlabuh, ia datang ke kamarku dan membantu
membawa koperku.
Aku menghirup udara
laut yang beraroma garam dan memperhatikan ombak menerpa pantai. Aku suka
berada di pantai, merasakan angin laut berhembus di wajahku. Membuat wajahku
terasa dingin. Dulu saat aku dan Donghae masih pacaran, kami sering
menghabiskan waktu di pantai. Sekedar untuk melupakan semua masalah yang ada.
Hah…seandainya
Donghae ada di sini.
Aku merasa lenganku
di sikut pelan. Aku menoleh dan melihat Yesung sedang menatapku dengan alis
berkerut.
“Kita sudah sampai
di hotel. Kau melamun ya?” Tanya Yesung sambil tersenyum. Pria ini, entah
mengapa aku suka melihat senyumnya yang menurutku terkesan misterius.
“Ya! Kau melamun
lagi. Ternyata kau mempunyai hobi melamun.” Kata Yesung sambil mengacak
rambutku.
“Anio….aku hanya
sedikit pusing,” jawabku berbohong.
“Kalau begitu kita
tunda dulu rencana jalan-jalannya. Kau istirahat saja. Aku tidak mau kau
sakit,” katanya sambil menatapku dengan tampang serius.
“Na gwenchana.
Lebih baik sekarang kau siap-siap. Setengah jam lagi kita bertemu di lobi,”
ujarku lalu berlari kecil menjauhinya sebelum ia mengomel dan menyuruhku
istirahat.
“Ya! Tunggu, kau
harus…” samar-samar aku mendengar kata-katanya, tapi masa bodoh. Yang aku
butuhkan sekarang adalah liburan, daripada aku terus-terusan memikirkan Donghae
yang malah akan membuatku sedih. Lagipula aku juga mendapat teman seperjalanan
yang sangat menyenangkan.
***
“Sudah lama?”
tanyaku saat tiba di lobi.
Yesung menoleh dan
tersenyum padaku. “Ani… aku juga baru tiba.”
Aku melipat tangan
di dada. “Jadi sekarang kita mau kemana?”
Yesung berpikir
sejenak lalu tersenyum lebar. “Aku juga tidak tahu mulai darimana, karena aku
sendiri baru pertama kali datang ke tempat ini. Lagipula kita punya banyak waktu untuk
menikmati pulau ini. Kkaja.”
***
BEAUTIFUL
Hanya itu yang
dapat aku katakan untuk menggambarkan keindahan pulau ini. Pulau mungil ini
benar-benar indah, ditambah dengan sikap penduduk setempat yang sangat bersahabat
dengan wisatawan.
Aku sendiri tidak
terlalu tahu tentang pulau ini, tapi sahabatku Sarang dan suaminya Leeteuk
menyarankan tempat ini untuk bulan madu ke-2 kami yang ternyata gagal total.
Aku juga baru tahu, pulau ini pernah menjadi lokasi syuting drama Winter Sonata
yang terkenal itu. Karena disini di buat patung Bae Young Jun dan
Choi Ji Woo yang adalah pemeran utama dalam drama tersebut.
Hah…. Aku
benar-benar kampungan sampai tidak tahu tentang pulau cantik ini.
“Melamun lagi,” aku
menoleh dan melihat Yesung sedang menatapku lekat-lekat.
“Aku tersenyum dan
menggeleng.
“Bohong,” gumamnya
dengan nada riang.
Aku mengangkat bahu
dan kembali berjalan.
“Jalan yang indah,”
ujarku untuk mengalihkan pembicaraan. Sekarang kami sedang berjalan di sebuah
jalan panjang berpasir di tepi danau yang di naungi pohon birch. Untunglah kami
datang saat musim gugur. Musim gugur di pulau Nami bagaikan lukisan hidup.
Aku sangat merasa
nyaman, apalagi di temani oleh teman seperjalanan seperti Yesung.
Kami mengitari
pulau bersama dan makan malam di kedai setempat. Perhatiannya yang mempesona
membantuku meredakan kesedihanku, tapi aku masih tetap merindukan Donghae.
Yesung membuatku gembira, tapi di hanya seorang teman.
***
“Sudah sampai,”
kata Yesung saat tiba di depan kamarku.
“Gomawo. Seharusnya
tadi kau tidak perlu mengantarku. Kamarmu kan di lantai 10, sedangkan kamarku di lantai
15,” kataku sambil membuka pintu kamarku.
“Gwenchana.
Lagipula, aku senang berada di sampingmu,” ujarnya sambil tersenyum.
“Terserah kau saja.
Aku masuk dulu, sampai jumpa besok,” aku akan menutup pintu saat Yesung
memanggil namaku.
“Kenapa….”
Cup
Ia mencium lembut
pipiku. “Good night, nice dream,” katanya lalu berlalu dari hadapanku.
Aku memegang
pipiku. Kenapa aku malah merindukan Donghae?”
***
Hari berikutnya
Yesung mengajakku ke ruang pameran. Disana kami mengunjungi anjungan musik, dan
aku mendengarnya menyanyi. Suaranya benar-benar mempesona.
Menurutku seharusnya ia menjadi penyanyi, bukan malah menjadi produser musik.
Malamnya Yesung
menemaniku ke sebuah pertunjukkan di ruang dansa. Setelah ini, aku sudah
memutuskan tidak akan menemuinya lagi dan mengatakan kalau aku sudah menikah.
Aku tidak mau memberinya harapan palsu, karena aku sendiri masih sangat
mencintai Donghae. Aku tersenyum sekilas sebelum lampu di redupkan; ia akan
menjadi suami yang baik bagi perempuan yang beruntung.
Ruang dansa itu
mengitari sebuah panggung yang melengkung di bagian tengahnya. Orkestra mulai
dan beberapa penari berkostum berputar-putar di lantai dansa.
Setelah itu muncul
seorang pesulap berstelan jas hitam, lengkap dengan kelepaknya. Pertunjukkannya
memunculkan decak kagum dari penonton. Untuk sulap terakhir pada malam ini, ia
memperkenalkan asisten yang langsing. Ia naik memasuki sebuah kotak dan
menggemboknya, mengucapkan beberapa kata dan mengayunkan tongkat sulapnya.
Kemudian membuka kembali kotak itu. Kosong. Tepukan tangan semakin riuh ketika
ia mempertontonkan isi kotak dari segala sudut. Ia mengunci kembali kotak itu,
dan suasana menjadi hening.
“Apakah ada Nyonya
Lee Hyun Jae di antara hadirin?” Tanya pesulap. Suaranya menggema keseluruh
ruangan.
Aku mengangkat
tangan dan gelisah duduk ditempat dududku. Yesung menoleh dan memnadangku. “Aku
sudah menikah,” bisikku. “Aku berencana memberitahumu sesudah pertunjukkan ini.
Mianhae.”
“Aku juga
menyesal,” jawabnya. Wajah Yesung memerah, ia bangkit dari kursi dan pergi.
“Di mohon berdiri.
Sulap ini khusus untuk anda.” Pesulap itu mengayunkan tongkat sulapnya diatas
kotak dan berkata “Sim Salabim.” Dia melepas kunci dan membuka tutup kotak.
Seorang pria tampan muncul keluar. Bukan sembarang pria: dia Donghae. Adrenalin
mengalir deras ditubuhku.
Pesulap itu
mengumumkan. “Kejutan! Selamat ulang tahun pernikahan yang ke-10 kepada Tuan
dan Nyonya Lee!” semua orang bertepuk tangan.
Donghae setengah
berlari dan menghampiriku dibarisan ke-3. ia duduk di kursi yang kosong, senyum
lebar terpampang. Ia menciumku dengan lembut.”
“Apa yang terjadi?
Bagaimana kau bisa….”
“Sim Salabim. Aku
disini. Perlu 2 hari untuk mendapat tiket pesawat. Kita masih punya 5 hari.
Jika kau memperbolehkan, aku berjanji akan membuat 5 hari itu sempurna,”
katanya sambil merapikan poniku.
“Aku kira kau harus
bekerja untuk membuat bosmu terkesan.”
“Lupakan bos.
Ketika menemukan cincinmu diatas tiket, aku pikir aku telah kehilanganmu. Tidak
ada yang pantas untuk hal itu,” aku tersenyum bahagia mendengar kata-katanya.
“Semuanya harus
berubah, jagi. Kau tidak bisa lagi mengabaikanku. Araseo?”
“Ne, araseo. Ayo kita
mulai dari awal. Yang aku tahu, aku merindukanmu,” ujarnya lalu mencium mesra
keningku.
Donghae
mengeluarkan cincin pernikahanku dari sakunya dan bertanya. “Maukah kau menikah
denganku lagi Nyonya cantik?”
“Ya, tentu saja..” bisikku, dan dia memasangkan
cincin itu di jariku. Aku mengayunkan tangan dan berkata, “Sim Salabim, kau
selamanya berada dalam kutukanku tuan Lee Donghae.”
“Tidak hal lain
yang ku inginkan, selain berada di sampingmu. Dan kita mempunyai janji untuk
mengisi formulir adopsi ketika pulang nanti.”
Aku terkejut dan
menatapnya heran. “Tapi kau….”
“Kita bisa
mengadopsi seorang anak untuk membuat rumah kita menjadi berwarna. Tapi aku
tidak bisa mengadopsimu.”
Tanpa aku sadari,
air mata mengalir saat mendengar kata-katanya. “Pabo yeoja. Kenapa menangis?”
Tanya Donghae sambil menghapus air mata di pipiku dengan jarinya. Aku tidak
tahu harus menjawab apa dan hanya diam sambil memandangi pria di hadapanku.
Donghae menatapku
lurus. “Saranghae. Yeongwonhi saranghae.”
Aku tidak tahu bagaimana
menggambarkan perasaanku saat ini. Yang aku tahu, pipiku terasa panas, air mata
kembali mengalir, lalu ia mencondongkan tubuhnya untuk menciumku. Ciuman yang
lembut dan lama, seperti yang aku rasakan saat pertama kali melakukan first
kiss dengannya.
Keajaiban bulan
madu kedua yang kuharapkan sungguh-sungguh terwujud.
***
*5 year later*
Aku menggendong
seorang bayi perempuan cantik yang baru lahir. Anakku dan Donghae; Soon Hee. Kami juga
mempunyai anak laki tampan yang kami adopsi sejak kembali dari pulau Nami,
namanya Ryeowook. Meskipun dia bukan anak kandung kami, tapi aku dan Hae sangat
menyayanginya. Sekarang aku merasa menjadi wanita yang sempurna, karena bisa memberi Donghae
anak dari rahimku dan juga adik bagi Ryeowook.
“Sim Salabim. Ratu,
ada kiriman dari kaisar.” Kata Ryeowook sambil menarik bajuku. Aku menoleh dan
jongkok dihadapannya. Kaisar adalah sebutan untuk Donghae, sedangkan aku
ratunya. Dia sendiri mendapat sebutan prince, dan dia juga langsung memanggil
Soon Hee princess saat tahu adiknya perempuan.
Aku melihatnya
membawa seikat bunga yang indah, selusin mawar pink yang sempurna. Aku
tersenyum lalu mengambil kartu yang terselip di antara bunga-bunganya, lalu
membaca:
Untuk gadis-gadisku (Ratu dan
Princessku) yang cantik,
Aku sangat mencintai kalian
berdua.
Donghae dan Ryeowook (Appa/Kaisar
dan Oppa/ Prince)
Aku tersenyum saat
membaca kata-kata di dalam kurung yang merupakan tulisan tangan Ryeowook yang
baru belajar menulis. Memandang kata Appa, air mataku mulai mengalir. Sebelumnya
dokter sudah mengatakan kami tidak kan punya anak, dan hal itu hampir membuat pernikahan kami hancur.
Tapi aku bersyukur, cinta kami tidak luntur dan malah mampu melewati semua
masalah yang membuat kami semakin kuat.
Sim Salabim!
Aku mempunyai kaisar
yang mencintaiku, dan sepasang prince-princess yang membuat hidupku sempurna.
=THE END=

Tidak ada komentar:
Posting Komentar