welcome =))

Minggu, 12 Juni 2011

FF ONESHOOT :: "The Power Of Love: Sim SalaBim"


"The Power Of Love ; Sim Sala Bim"



‘Jagii!” jeritku, “tiketnya datang.”. Amplop yang aku pegang berisi jadwal perjalanan bulan madu ke-2 kami dengan kapal ke pulau Nami.

“Bagus,” gumamnya lalu tenggelam dengan Koran Sabtu pagi. Aku berjalan ke sofa, menjatuhkan diri di sana, dan mengeluarkan isi amplop ke pangkuan. Donghae tetap focus pada bisnis Koran itu. Aku memandang sekilas pada brosur, dan membaca jadwal perjalanan keras-keras. Tapi sayangnya dia tidak mengacuhkanku dan malah meneguk kopi. Aku berpura-pura tidak memperhatikan wajahnya yang merengut. Responnya yang mengecilkan hati adalah salah satu alasan mengapa aku sangat menginginkan liburan ini.

Kami telah menikah sepuluh tahun. Di saat pernikahan, Donghae ingin mempunyai banyak anak. Untuk itu kami mencari rumah dengan banyak kamar tidur. Namun kenyataannya, aku tidak juga hamil. Pada akhirnya kami berkonsultasi dengan dokter dan mengikuti beberapa tes. Ketika dokter memberitahu kami tidak akan pernah punya anak, aku melihat Donghae mengernyitkan wajahnya dan aku tahu harapannya hancur.

Kenyataan ini membebani pernikahan kami, meskipun Donghae mengatakan dia tidak menyalahkanku. Tapi dia menjadi lebih pendiam saat salah satu teman, ataupun kerabat bahagia saat menyambut bayi kecil dalam kehidupan mereka. Aku mengusulkan adopsi, tapi dia tidak mau membahasnya. Sembilan tahun berlalu, dan beberapa bulan terakhir kami nyaris tidak saling bicara, kecuali untuk bertengkar.

Aku berencana mengubah semua itu dalam tujuh hari di pulau Nami. Aku ingin memperbaiki semuanya dan memulai dari awal lagi.

Kapal di jadwalkan berangkat Jumat depan dan aku membeli pakaian baru untuk menginspirasinya, berusaha menurunkan beberapa kilogram tubuhku, dan tampil cantik. Aku berusaha menyiapkan segala sesuatu untuk menjadikan liburan ini sangat khusus bagi kami. Aku juga percya liburan ini akan memperbaiki hubungan kami. Dengan teliti aku menghitung hari.

Pada Kamis siang aku bersenandung sambil mengemas perlengkapan. Kopor Donghae tergeletak di sisi tempat tidur, dan dalam keadaan kosong. Telepon bordering, Donghae yang menelepon.

“Hyun Jae ada sesuatu yang terjadi. Hangeng hyung berhenti kerja hari ini. Kami kekurangan tenaga. Jadi, aku tidak bisa pergi besok.”

“Tapi jagi, tidak bisakah orang lain menggantikannya? Ini bulan madu ke-2 kita. Kita juga sudah merencanakannya berbulan-bulan,” aku menggigit bibir.

“Bos membutuhkanku. Ini kesempatan besar untuk menunjukkan kemampuanku. Jadi jangan menunggu. Aku batal,” dia menutup telepon sebelum memberiku kesempatan untuk bicara. Aku merinding saat setetes air bening mengalir turun dari mataku.

Dengan perasaan tertekan, aku berusaha menyibukkan diri, berharap kekecewaanku akan menghilang. Ternyata sama sekali tidak mempan. Aku pergi tidur dengan air mata menggenangi pipiku.

Lewat tengah malam Donghae pulang dan berbaring di sisiku. Paginya ketika aku bangun, ia sudah pergi. Sebuah catatan tergeletak di meja.
Bersenang-senanglah, Donghae.

Aku memperhatikan bahwa dia tidak menulis Love Donghae seperti biasanya. Aku menghapus air mata. Sepertinya aku akan berbulan madu seorang diri. Membayangkannya saja membuat perutku mulas.

Aku menyiapkan semua bawaanku dan memasukkan sekotak tisu ke dalam koper. Donghae lebih memilih pekerjaannya dibanding aku. Aku tak punya kesempatan untuk memperbaiki pernikahan kami. Namun, aku berusaha untuk berpikir positif, aku meninggalkanku tiket Donghae di atas meja.

Aku menelepon kantornya untuk memberinya 1 kesempatan terakhir dan mendengar suara riang seorang wanita. “Apakah Lee Donghae ada?” tanyaku dengan sengit.

“Dia ada disini,” jawabnya. Aku mengenali suara centil itu. Shin HyoRi, yang sejak dulu tergila-gila pada Donghae. Perasaan takut tiba-tiba menusukku.

“Halo. Lee Donghae disini.”

“Aku hanya ingin mengucapkan selamat berpisah, kecuali….”

“Bersenang-senanglah. Banyak wanita yang pergi seorang diri. Kau akan berkenalan dengan banyak teman baru. Jika pekerjaan di sini sudah selesai, aku akan menyusulmu.”

Ketika dia mengucapkan selamat berpisah, aku mendengar tawa cekikikan di latar belakang. Tenggorokanku tercekat. Apa dia selingkuh? Beberapa minggu dia bersikap tak acuh dan bekerja sampai larut malam.

Hatiku terasa di remas-remas ketika aku meletakkan cincin pernikahanku di atas tiketnya. Aku bertekad meninggalkan semua sakit hatiku, paling tidak selama perjalanan.

Aku mengemudi sendiri ke pelabuhan, berjuang dengan koper-koperku dan bergabung dengan antrean. Aku melihat banyak pasangan yang mendaftarkan kedatangan mereka. Tiba-tiba saja aku merasa sangat kesepian. Seandainya Donghae jadi pergi. Aku menyerahkan tiketku kepada pria di balik meja pendaftaran.

“Nyonya Lee, ada 2 penumpang yang mendaftar di kamar 132. Apakah penumpang lainnya akan tiba sebelum kapal berangkat?”

“Tidak. Suami saya harus melakukan pekerjaan darurat. Aku pergi sendiri,” kesepian menghujam dadaku, pria itu tersenyum padaku dengan wajah penuh empati.

“Ada 150 penumpang di kapal ini, dan banyak yang bepergian seorang diri. Selamat menikmati pulau Nami.”

“Kamasahamnida,” aku naik kekapal, dan berjalan ke kamarku. Kamarnya lebih kecil dari yang aku bayangkan, dengan 2 jendela kecil. Aku berbaring di tempat tidur. Aku merasa sangat sedih. Rasanya akan berbeda jika Donghae ada di sini. Apa dia merasa bosan padaku? Dengan menelan ludah, aku memutuskan untuk berhenti mengasihani diri sendiri. Tujuan perjalanan ini untuk menenangkan pikiranku, dengan atau tanpa Donghae.

Aku membereskan koperku dan berganti pakaian untuk makan malam.

Aku duduk di ruang makan dalam kesendirian. Hatiku kembali pedih saat melihat pengunjung lain bercengkrama dengan pasangan mereka. Aku sangat merindukannya saat ini.

“Annyeong haseyo,” aku menoleh dan melihat seorang pria yang menurutku tampan sedang tersenyum menatapku. “Bolehkah aku bergabung? Semua meja sudah di isi dengan pasangan yang sepertinya sedang jatuh cinta. Jadi tidak mungkin aku bergabung dengan mereka.”

Aku menatapnya dengan tatapan kesal. Jadi menurutnya aku adalah wanita kesepian yang duduk di antara pasangan-pasangan lain dan mengharapkan seseorang menemaniku agar aku tidak terlihat bodoh?

“Oh, Mianhae. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan anda. Maksud saya….” Ucapnya cepat saat melihat perubahan raut wajahku.

“Ne, saya mengerti maksud anda. Silahkan duduk,” jawabku ketus memotong kata-katanya sebelum dia melanjutkan penjelasannya yang dapat membuatku mengusir dia dari sini.

“Kim Jongwoon imnida. Kau boleh memanggilku Yesung,” kata pria dihadapanku.

“Lee Hyun Jae imnida,” aku memaksa seulas senyum dan menyambut uluran tangannya.

“Makan malam sendirian? Atau sedang menunggu sendirian?” tanyanya setelah aku menarik kembali tanganku. Aku berusaha tidak emosi dan menggeleng pelan. “Tidak, aku memang sendirian. Bagaimana denganmu?”

Ia menyunggingkan senyumnya yang menurutku manis. “Aku juga sendirian.”

“Aku minta maaf untuk sikapku tadi yang kurang bersahabat.”

“Gwenchana,” kata Yesung. Ia mengangkat sebelah tangannya dan memanggil seorang pelayan.

Seorang pelayan datang menghampiri meja kami. Yesung menyebutkan pesanannya dan pelayan tiu berlalu.

Harus aku akui, Yesung adalah pria yang menyenangkan. Bicara dengannya seperti bicara dengan teman lama. Kami sama sekali tidak kehabisan bahan obrolan, dan tentunya ia sangat cerewet. Ia bercerita bahwa ia seorang duda dan pemilik salah satu studio rekaman terbesar di Seoul. Menurutku, kehidupannya adalah kehidupan kelas atas. Ketika malam semakin larut, aku baru menyadari bahwa dia menyukaiku.

“Apa aku bisa menemanimu besok?” Tanya Yesung saat dia mengantarku ke kamarku.

Aku tersanjung mendengarnya dan tersenyum. “ Tentu saja,” aku merasa gembira dengan rencana itu. Donghae telah mengatakan aku akan bertemu dengan teman baru, pasti dia kan terkejut bila mengetahui teman baruku ternyata sangat menyenangkan.

*Keesokkan hari*

Yesung menepati janjinya. Sebelum kapal berlabuh, ia datang ke kamarku dan membantu membawa koperku.

Aku menghirup udara laut yang beraroma garam dan memperhatikan ombak menerpa pantai. Aku suka berada di pantai, merasakan angin laut berhembus di wajahku. Membuat wajahku terasa dingin. Dulu saat aku dan Donghae masih pacaran, kami sering menghabiskan waktu di pantai. Sekedar untuk melupakan semua masalah yang ada.

Hah…seandainya Donghae ada di sini.

Aku merasa lenganku di sikut pelan. Aku menoleh dan melihat Yesung sedang menatapku dengan alis berkerut.

“Kita sudah sampai di hotel. Kau melamun ya?” Tanya Yesung sambil tersenyum. Pria ini, entah mengapa aku suka melihat senyumnya yang menurutku terkesan misterius.

“Ya! Kau melamun lagi. Ternyata kau mempunyai hobi melamun.” Kata Yesung sambil mengacak rambutku.

“Anio….aku hanya sedikit pusing,” jawabku berbohong.


“Kalau begitu kita tunda dulu rencana jalan-jalannya. Kau istirahat saja. Aku tidak mau kau sakit,” katanya sambil menatapku dengan tampang serius.

“Na gwenchana. Lebih baik sekarang kau siap-siap. Setengah jam lagi kita bertemu di lobi,” ujarku lalu berlari kecil menjauhinya sebelum ia mengomel dan menyuruhku istirahat.

“Ya! Tunggu, kau harus…” samar-samar aku mendengar kata-katanya, tapi masa bodoh. Yang aku butuhkan sekarang adalah liburan, daripada aku terus-terusan memikirkan Donghae yang malah akan membuatku sedih. Lagipula aku juga mendapat teman seperjalanan yang sangat menyenangkan.

***

“Sudah lama?” tanyaku saat tiba di lobi.

Yesung menoleh dan tersenyum padaku. “Ani… aku juga baru tiba.”

Aku melipat tangan di dada. “Jadi sekarang kita mau kemana?”

Yesung berpikir sejenak lalu tersenyum lebar. “Aku juga tidak tahu mulai darimana, karena aku sendiri baru pertama kali datang ke tempat ini. Lagipula kita punya banyak waktu untuk menikmati pulau ini. Kkaja.”

***

BEAUTIFUL

Hanya itu yang dapat aku katakan untuk menggambarkan keindahan pulau ini. Pulau mungil ini benar-benar indah, ditambah dengan sikap penduduk setempat yang sangat bersahabat dengan wisatawan.

Aku sendiri tidak terlalu tahu tentang pulau ini, tapi sahabatku Sarang dan suaminya Leeteuk menyarankan tempat ini untuk bulan madu ke-2 kami yang ternyata gagal total. Aku juga baru tahu, pulau ini pernah menjadi lokasi syuting drama Winter Sonata yang terkenal itu. Karena disini di buat patung Bae Young Jun dan Choi Ji Woo yang adalah pemeran utama dalam drama tersebut.

Hah…. Aku benar-benar kampungan sampai tidak tahu tentang pulau cantik ini.

“Melamun lagi,” aku menoleh dan melihat Yesung sedang menatapku lekat-lekat.

“Aku tersenyum dan menggeleng.

“Bohong,” gumamnya dengan nada riang.

Aku mengangkat bahu dan kembali berjalan.

“Jalan yang indah,” ujarku untuk mengalihkan pembicaraan. Sekarang kami sedang berjalan di sebuah jalan panjang berpasir di tepi danau yang di naungi pohon birch. Untunglah kami datang saat musim gugur. Musim gugur di pulau Nami bagaikan lukisan hidup.

Aku sangat merasa nyaman, apalagi di temani oleh teman seperjalanan seperti Yesung.

Kami mengitari pulau bersama dan makan malam di kedai setempat. Perhatiannya yang mempesona membantuku meredakan kesedihanku, tapi aku masih tetap merindukan Donghae. Yesung membuatku gembira, tapi di hanya seorang teman.

***

“Sudah sampai,” kata Yesung saat tiba di depan kamarku.

“Gomawo. Seharusnya tadi kau tidak perlu mengantarku. Kamarmu kan di lantai 10, sedangkan kamarku di lantai 15,” kataku sambil membuka pintu kamarku.

“Gwenchana. Lagipula, aku senang berada di sampingmu,” ujarnya sambil tersenyum.

“Terserah kau saja. Aku masuk dulu, sampai jumpa besok,” aku akan menutup pintu saat Yesung memanggil namaku.

“Kenapa….”

Cup

Ia mencium lembut pipiku. “Good night, nice dream,” katanya lalu berlalu dari hadapanku.

Aku memegang pipiku. Kenapa aku malah merindukan Donghae?”

***

Hari berikutnya Yesung mengajakku ke ruang pameran. Disana kami mengunjungi anjungan musik, dan aku mendengarnya menyanyi. Suaranya benar-benar mempesona. Menurutku seharusnya ia menjadi penyanyi, bukan malah menjadi produser musik.


Malamnya Yesung menemaniku ke sebuah pertunjukkan di ruang dansa. Setelah ini, aku sudah memutuskan tidak akan menemuinya lagi dan mengatakan kalau aku sudah menikah. Aku tidak mau memberinya harapan palsu, karena aku sendiri masih sangat mencintai Donghae. Aku tersenyum sekilas sebelum lampu di redupkan; ia akan menjadi suami yang baik bagi perempuan yang beruntung.

Ruang dansa itu mengitari sebuah panggung yang melengkung di bagian tengahnya. Orkestra mulai dan beberapa penari berkostum berputar-putar di lantai dansa.

Setelah itu muncul seorang pesulap berstelan jas hitam, lengkap dengan kelepaknya. Pertunjukkannya memunculkan decak kagum dari penonton. Untuk sulap terakhir pada malam ini, ia memperkenalkan asisten yang langsing. Ia naik memasuki sebuah kotak dan menggemboknya, mengucapkan beberapa kata dan mengayunkan tongkat sulapnya. Kemudian membuka kembali kotak itu. Kosong. Tepukan tangan semakin riuh ketika ia mempertontonkan isi kotak dari segala sudut. Ia mengunci kembali kotak itu, dan suasana menjadi hening.

“Apakah ada Nyonya Lee Hyun Jae di antara hadirin?” Tanya pesulap. Suaranya menggema keseluruh ruangan.

Aku mengangkat tangan dan gelisah duduk ditempat dududku. Yesung menoleh dan memnadangku. “Aku sudah menikah,” bisikku. “Aku berencana memberitahumu sesudah pertunjukkan ini. Mianhae.”

“Aku juga menyesal,” jawabnya. Wajah Yesung memerah, ia bangkit dari kursi dan pergi.

“Di mohon berdiri. Sulap ini khusus untuk anda.” Pesulap itu mengayunkan tongkat sulapnya diatas kotak dan berkata “Sim Salabim.” Dia melepas kunci dan membuka tutup kotak. Seorang pria tampan muncul keluar. Bukan sembarang pria: dia Donghae. Adrenalin mengalir deras ditubuhku.

Pesulap itu mengumumkan. “Kejutan! Selamat ulang tahun pernikahan yang ke-10 kepada Tuan dan Nyonya Lee!” semua orang bertepuk tangan.

Donghae setengah berlari dan menghampiriku dibarisan ke-3. ia duduk di kursi yang kosong, senyum lebar terpampang. Ia menciumku dengan lembut.”

“Apa yang terjadi? Bagaimana kau bisa….”

“Sim Salabim. Aku disini. Perlu 2 hari untuk mendapat tiket pesawat. Kita masih punya 5 hari. Jika kau memperbolehkan, aku berjanji akan membuat 5 hari itu sempurna,” katanya sambil merapikan poniku.

“Aku kira kau harus bekerja untuk membuat bosmu terkesan.”

“Lupakan bos. Ketika menemukan cincinmu diatas tiket, aku pikir aku telah kehilanganmu. Tidak ada yang pantas untuk hal itu,” aku tersenyum bahagia mendengar kata-katanya.

“Semuanya harus berubah, jagi. Kau tidak bisa lagi mengabaikanku. Araseo?”

“Ne, araseo. Ayo kita mulai dari awal. Yang aku tahu, aku merindukanmu,” ujarnya lalu mencium mesra keningku.

Donghae mengeluarkan cincin pernikahanku dari sakunya dan bertanya. “Maukah kau menikah denganku lagi Nyonya cantik?”

“Ya, tentu saja..” bisikku, dan dia memasangkan cincin itu di jariku. Aku mengayunkan tangan dan berkata, “Sim Salabim, kau selamanya berada dalam kutukanku tuan Lee Donghae.”

“Tidak hal lain yang ku inginkan, selain berada di sampingmu. Dan kita mempunyai janji untuk mengisi formulir adopsi ketika pulang nanti.”

Aku terkejut dan menatapnya heran. “Tapi kau….”

“Kita bisa mengadopsi seorang anak untuk membuat rumah kita menjadi berwarna. Tapi aku tidak bisa mengadopsimu.”

Tanpa aku sadari, air mata mengalir saat mendengar kata-katanya. “Pabo yeoja. Kenapa menangis?” Tanya Donghae sambil menghapus air mata di pipiku dengan jarinya. Aku tidak tahu harus menjawab apa dan hanya diam sambil memandangi pria di hadapanku.

Donghae menatapku lurus. “Saranghae. Yeongwonhi saranghae.”

Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku saat ini. Yang aku tahu, pipiku terasa panas, air mata kembali mengalir, lalu ia mencondongkan tubuhnya untuk menciumku. Ciuman yang lembut dan lama, seperti yang aku rasakan saat pertama kali melakukan first kiss dengannya.
Keajaiban bulan madu kedua yang kuharapkan sungguh-sungguh terwujud.

***

*5 year later*

Aku menggendong seorang bayi perempuan cantik yang baru lahir. Anakku dan Donghae; Soon Hee. Kami juga mempunyai anak laki tampan yang kami adopsi sejak kembali dari pulau Nami, namanya Ryeowook. Meskipun dia bukan anak kandung kami, tapi aku dan Hae sangat menyayanginya. Sekarang aku merasa menjadi wanita yang sempurna, karena bisa memberi Donghae anak dari rahimku dan juga adik bagi Ryeowook.

“Sim Salabim. Ratu, ada kiriman dari kaisar.” Kata Ryeowook sambil menarik bajuku. Aku menoleh dan jongkok dihadapannya. Kaisar adalah sebutan untuk Donghae, sedangkan aku ratunya. Dia sendiri mendapat sebutan prince, dan dia juga langsung memanggil Soon Hee princess saat tahu adiknya perempuan.

Aku melihatnya membawa seikat bunga yang indah, selusin mawar pink yang sempurna. Aku tersenyum lalu mengambil kartu yang terselip di antara bunga-bunganya, lalu membaca:

Untuk gadis-gadisku (Ratu dan Princessku) yang cantik,
Aku sangat mencintai kalian berdua.
Donghae dan Ryeowook (Appa/Kaisar dan Oppa/ Prince)

Aku tersenyum saat membaca kata-kata di dalam kurung yang merupakan tulisan tangan Ryeowook yang baru belajar menulis. Memandang kata Appa, air mataku mulai mengalir. Sebelumnya dokter sudah mengatakan kami tidak kan punya anak, dan hal itu hampir membuat pernikahan kami hancur. Tapi aku bersyukur, cinta kami tidak luntur dan malah mampu melewati semua masalah yang membuat kami semakin kuat.

Sim Salabim!

Aku mempunyai kaisar yang mencintaiku, dan sepasang prince-princess yang membuat hidupku sempurna.

=THE END=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar