Pertama kali lihat novel karangan Alexandra Leirissa Yunaidi
di Gramedia tahun kemarin aku benar-benar gak tertarik, apalagi setelah membaca
sinopsisnya, sama sekali tidak berminat !!
Hmm ..
Tapi akhirnya aku terpaksa menarik kembali semua ucapanku. Karena
setelah membacanya dan malah menyelesaikannya dalam sehari aku langsung jatuh
cinta (pada novelnya. :D). Ceritanya
mampu menghipnotisku dan membuatku menangis saking terharunya. Harus aku akui,
ini merupakan salah satu novel terbaik, ter-so sweet, dan romantis yang pernah
aku baca.
Sama sekali gak menduka endingnya akan sangat menguras emosi
dan air mataku.
Novel ini bercerita tentang seorang wanita bernama Pelita
yang hidupnya menjadi berwarna ketika sang pria-Efraim hadir dalam
kehidupannya.
Dimulai dari pertemuan yang tidak disengaja karena Pelita
yang seorang illustrator pada sebuah majalah wanita ditugaskan untuk menjadi
reporter yang akan mewawancarai seorang artis pendatang baru. Namun, ia malah
salah mewawancarai orang.
Dari situlah awal pertemuan Pelita dan Efraim yang kemudian
berubah menjadi kerja sama antara perusahaan Efraim dan majalah tempat Pelita
bekerja. Pertemuan yang sering dilakukan kemudian menimbulkan rasa cinta Pelita
bagi Efraim.
Tapi sayangnya Pelita malah mengira Efraim mempunyai
‘kelainan’ dan ada ‘affair’ dengan bosnya-Pak Ian.
Merasa kalah dan putus asa karena cintanya yang tidak
kesampaian, Pelita memutuskan untuk menyerah. Terlebih lagi saat Efraim
mengatakan bahwa kerjasama antara perusahaan mereka sudah dihentikan.
Sedih, hancur, patah hati, dan putus asa. Itulah yang Pelita
rasakan..
Namun tiba-tiba saja Efraim dating ke kostannya dan terkejut
melihat Pelita menangis. Dia pikir Pelita menangis karena masih mencintai dan
belum bisa merelakan mantan pacarnya yang baru saja menikah.
Setelah terjadi perdebatan yang panjang diantara mereka,
akhirnya terbukti kalau Efraim gak punya kelainan apalagi ‘affair’ dengan Pak
Ian, justru sebenarnya Efraim sudah jatuh cinta pada Pelita sejak pertama kali
mereka bertemu. Pelita yang ternyata selama ini salah sangka tidak bisa berkata
banyak selain merutuki kebodohannya. Pada akhirnya mereka jadian deh.
Setelah mereka jadian bukan berarti ceritanya berakhir
bahagia seperti didalam dongeng. Ada banyak kerikil kecil yang menimpa mereka.
Mulai dari sikap Pak Ian yang berubah jutek dan pertanyaan teman-teman sekantor
Pelita apakah Efraim sudah mengenalkannya pada orang tuanya, karena menurut
mereka itu adalah bukti konkrit keseseriusan seorang pria. Hal itu bukan hanya
mengganggu pikirannya, tapi juga membuat hubungannya dengan Efraim renggang.
Untuk membuat Pelita percaya akan keseriusan cintanya,
Efraim membuat pesta kejutan pertunangan mereka yang benar-benar romantic.
Kenapa?
Karena Efraim mengajak Pelita untuk berenang dan turun kedasar
kolam. Kolam itu sendiri sudah disulap sehingga mirip dengan keadaan dibawah
laut. Dan guess what? Ada sebuah kerang diadalam kolam itu yang berisi sebuah
cincin mutiara yang sangat indah. Efraim memasangkan cincin tersebut tepat
didasar kolam.
Benar-benar sempurna bukan?
Namun sayangnya kebahagiaan itu hanya sementara. Karena
masalah utamanya dating dari mama Efraim yang jelas-jelas tidak menyukai
Pelita.
Gara-gara jebakan mamanya yang menyuruh Pelita membuat
sebuah lukisan sebagai kado ulang tahunnya, membuat Pelita hampir depresi dan
berimbas pada hubungannya dengan Efraim. Hingga akhirnya takdir memutarbalikkan
keadaan. Efraim meninggalkannya untuk selamanya!
PENYESALAN !!
Pelita terus menyalahkan diri dan hidup dalam keterpurukkan.
Baginya kehidupannya sudah tidak berwarna karena Efraim yang adalah
satu-satunya pemberi warna itu telah tiada.
Pelita salah jika berpikir Efraim benar-benar telah
meninggalkannya, karena pada akhirnya Efraim mengirim seorang malaikat untuk
menjaga dan memastikan Pelita akan baik-baik saja. Seorang malaikat yang
akhirnya bisa membuat Pelita sadar hidupnya harus terus berjalan dengan ataupun
tanpa Efraim disisinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar