welcome =))

Kamis, 08 November 2012

Bidadari Santa Monica


Pertama kali lihat novel karangan Alexandra Leirissa Yunaidi di Gramedia tahun kemarin aku benar-benar gak tertarik, apalagi setelah membaca sinopsisnya, sama sekali tidak berminat !!

Hmm ..
Tapi akhirnya aku terpaksa menarik kembali semua ucapanku. Karena setelah membacanya dan malah menyelesaikannya dalam sehari aku langsung jatuh cinta (pada novelnya. :D).  Ceritanya mampu menghipnotisku dan membuatku menangis saking terharunya. Harus aku akui, ini merupakan salah satu novel terbaik, ter-so sweet, dan romantis yang pernah aku baca.
Sama sekali gak menduka endingnya akan sangat menguras emosi dan air mataku.

Novel ini bercerita tentang seorang wanita bernama Pelita yang hidupnya menjadi berwarna ketika sang pria-Efraim hadir dalam kehidupannya.
Dimulai dari pertemuan yang tidak disengaja karena Pelita yang seorang illustrator pada sebuah majalah wanita ditugaskan untuk menjadi reporter yang akan mewawancarai seorang artis pendatang baru. Namun, ia malah salah mewawancarai orang.

Dari situlah awal pertemuan Pelita dan Efraim yang kemudian berubah menjadi kerja sama antara perusahaan Efraim dan majalah tempat Pelita bekerja. Pertemuan yang sering dilakukan kemudian menimbulkan rasa cinta Pelita bagi Efraim.

Tapi sayangnya Pelita malah mengira Efraim mempunyai ‘kelainan’ dan ada ‘affair’ dengan bosnya-Pak Ian.
Merasa kalah dan putus asa karena cintanya yang tidak kesampaian, Pelita memutuskan untuk menyerah. Terlebih lagi saat Efraim mengatakan bahwa kerjasama antara perusahaan mereka sudah dihentikan.
Sedih, hancur, patah hati, dan putus asa. Itulah yang Pelita rasakan..
Namun tiba-tiba saja Efraim dating ke kostannya dan terkejut melihat Pelita menangis. Dia pikir Pelita menangis karena masih mencintai dan belum bisa merelakan mantan pacarnya yang baru saja menikah.
Setelah terjadi perdebatan yang panjang diantara mereka, akhirnya terbukti kalau Efraim gak punya kelainan apalagi ‘affair’ dengan Pak Ian, justru sebenarnya Efraim sudah jatuh cinta pada Pelita sejak pertama kali mereka bertemu. Pelita yang ternyata selama ini salah sangka tidak bisa berkata banyak selain merutuki kebodohannya. Pada akhirnya mereka jadian deh. 

Setelah mereka jadian bukan berarti ceritanya berakhir bahagia seperti didalam dongeng. Ada banyak kerikil kecil yang menimpa mereka. Mulai dari sikap Pak Ian yang berubah jutek dan pertanyaan teman-teman sekantor Pelita apakah Efraim sudah mengenalkannya pada orang tuanya, karena menurut mereka itu adalah bukti konkrit keseseriusan seorang pria. Hal itu bukan hanya mengganggu pikirannya, tapi juga membuat hubungannya dengan Efraim renggang.

Untuk membuat Pelita percaya akan keseriusan cintanya, Efraim membuat pesta kejutan pertunangan mereka yang benar-benar romantic.
Kenapa?
Karena Efraim mengajak Pelita untuk berenang dan turun kedasar kolam. Kolam itu sendiri sudah disulap sehingga mirip dengan keadaan dibawah laut. Dan guess what? Ada sebuah kerang diadalam kolam itu yang berisi sebuah cincin mutiara yang sangat indah. Efraim memasangkan cincin tersebut tepat didasar kolam.
Benar-benar sempurna bukan?

Namun sayangnya kebahagiaan itu hanya sementara. Karena masalah utamanya dating dari mama Efraim yang jelas-jelas tidak menyukai Pelita.
Gara-gara jebakan mamanya yang menyuruh Pelita membuat sebuah lukisan sebagai kado ulang tahunnya, membuat Pelita hampir depresi dan berimbas pada hubungannya dengan Efraim. Hingga akhirnya takdir memutarbalikkan keadaan. Efraim meninggalkannya untuk selamanya!

PENYESALAN !!
Pelita terus menyalahkan diri dan hidup dalam keterpurukkan. Baginya kehidupannya sudah tidak berwarna karena Efraim yang adalah satu-satunya pemberi warna itu telah tiada.
Pelita salah jika berpikir Efraim benar-benar telah meninggalkannya, karena pada akhirnya Efraim mengirim seorang malaikat untuk menjaga dan memastikan Pelita akan baik-baik saja. Seorang malaikat yang akhirnya bisa membuat Pelita sadar hidupnya harus terus berjalan dengan ataupun tanpa Efraim disisinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar